Selamat datang di duniaku

Sabtu, 08 Desember 2012

Pengertian alinea


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian alinea
Dalam sebuah bacaan, sering kita melihat pembagian – pembagian pada setiap bacaan atau yang kita sebut alinea atau paragraf. Jadi Alinea tidak lain dari satu kesatuan pikiran, satu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat.ia merupakan himpunan – himpunan dari kalimat yang bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
            Namun, kadang kita melihat alinea yang terdiri dari satu kalimat.dalam hal ini memang dimungkinkan dan wujud alinea seperti itu dianggap sebagai pengecualian karena di samping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi. (Lamuddin Finoza, komposisi bahasa Indonesia, 2002)
Dilihat dari isinya, alinea merupakan satuan informasi yang memiliki ide pokok sebagai pengendalinya. Dari uraian ini dapat dijelaskan bahwa alinea adalah bagian dari suatu karangan yang terdiri atas sejumlah kalimat yang mengungkapkan satuan informasi dengan ide pokok sebagai pengendalinya. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
 Jadi dapat kita simpulkan bahwa alinea adalah susunan dari beberapa kalimat dalam suatu bacaan dan di dalamnya terdapat ide pokok sebagai pengendalinya. Dan jika terdiri hanya satu kalimat maka alinea tersebut kurang ideal. Dan tidak bisa digunakan dalam karya ilmiah.
B.      Struktur alinea
Jika kita lihat dalam suatu alinea terdiri dari beberapa kalimat yang fungsinya berbeda – beda. Yakni ada kalimat topik, kalimat penjelas, dan kalimat simpulan atau penegas. Ciri – cirinya sebagai berikut.
Ciri kalimat topik:
(1)   mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih lanjut, 
(2)   merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri – sendiri,
(3)    mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat  lain,

2
(4)   Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung atau penghubung / transisi.
 Ciri kalimat penjelas:
(1)   Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti),
(2)    Arti kalimat ini kadang – kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain atau satu alinea,
(3)   Pembentukan sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung / transisi,
(4)   Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lainyang bersifat mendukung kalimat topik. (Lamuddin Finoza, komposisi bahasa Indonesia, 2002)    
 Fungsi dari kalimat diatas dapat dilihat seperti contoh di bawah ini:                       
       (1)Islam adalah agama yang sangat memperhatikan persoalan gender. (2) Ajaran agama islam mengandung prinsip – prinsip keadilan dan kesetaraan gender. (3) Dalam sejarah, islam telah berhasil mendobrak keterbelakangan dan ketertindasan yang membatasi harkat kemanusiaan perempuan. (4) Pendidikan islam juga mendukung lahirnya orang – orang yang krisis dan kreatif yang mengakibatkan adanya perubahan terhadap budaya diskriminasi terhadap perempuan. (5) Dengan demikian, jelaslah bahwa ajaran islam memiliki kontribusi yang besar dalam membentuk relasi gender dalam masyarakat islam.
        Contoh diatas terdiri dari 5 kalimat yang memiliki fungsi yang berbeda – beda. Seperti kalimat (1) yang berfungsi sebagai kalimat topik yang di dalamnya atau sebagai ide pokok dalam suatu alinea. Kalimat (2-4) adalah kalimat penjelas yang fungsinya menjelaskan kalimat (1). Kalimat (5) adalah kalimat penegas atau simpulan yang fungsinya mempertegas kembali kalimat topik dan sekaligus menyimpulkan isi dari keseluruhan paragraf.
C.     Persyaratan alinea
Seperti halnya dengan kalimat, sebuah alinea juga harus memenuhi syarat – syarat tertentu. Alinea yang baik dan efektif harus memenuhi ketiga syarat berikut:
a.       Kesatuan:  yang dimaksud dengan kesatuan dalam alinea adalah semua kalimat yang membina kalimat itu secara bersama – sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu.
b.      Koherensi: yang dimaksud dengan koherensi adalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
c.       Kelengkapan. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)

3

Penjabaran dari syarat – syarat alinea yang memiliki ciri – ciri khusus dan dijelaskan di bawah ini.
a.       Kesatuan alinea
Dimaksud dengan kesatuan  bahwa alinea tersebut harus memperhatikan dengan jelas suatu maksud atau sebuah tema tertentu. Kesatuan ini tidak boleh diartikan bahwa ia hanya memuat satu hal saja. Sebuah alinea yang memiliki bisa saja  mengandung beberapa hal, atau beberapa perincian, tetapi semua unsur tadi haruslah bersama – sama digerakkan untuk menunjang sebuah maksud tunggal atau sebuah tema  tunggal. Maksud tunggal itulah yang disampaikan oleh penulis dalam alinea itu. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Perhatikan contoh berikut ini:
Allah telah membekali manusia dengan akal pikiran untuk dimanfaatkan dalam menjalani kehidupannya. Akal pikiran itu merupakan ciri keistimewaan manusia, segaligus pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Manusia dapat mencapai taraf kehidupan yang mulia karena akal pikirannya, sebaliknya, manusia pun dapat mengalami kehidupanyang hina karena akal pikirannya. Namun, meskipun akal manusia telah digunakan dengan baik, keberadaannya tetap dalam lingkup yang terbatas. Artinya, terdapat persoalan yang tidak dapat terselesaikan dengan akal pikiran. Salah satunya hal yang tidak dapat diselesaikan dalam akal pikiran adalah zat Allah.
Dalam paragraf tersebut dikemukakan tentang satu gagasan pokok yaitu Allah memberikan akal pikiran kepada manusia untuk digunakan dalam menjalani kehidupannya. Gagasan pokok ini dijelaskan dengan beberapa gagasan penunjang berikut ini:
(1)   Akal pikiran itu merupakan ciri keistimewaan manusia.
(2)   Manusia bisa mencapai taraf kehidupan yang mulia karena akal pikirannya, sebaliknya, manusiapun dapat mengalami kehidupan yang hina karena akal pikirannya.
(3)   Meskipun akal pikiran manusia telah digunakan dengan baik, keberadaannya tetap dalam lingkup yang terbatas.
(4)   Terdapat persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan akal pikiran.
(5)   Salah satunya adalah hal yang tidak dapat diselesaikan dengan akal pikiran adalah zat Allah. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
4

b.      Koherensi
Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh sebuah alinea adalah bahwa alinea itu harus mengandung koherensi atau kepaduan yang baik. Kepaduan yang baik itu terjadi apabila hubungan timbal – balik antara kalimat – kalimat yang membina alinea itu baik, wajar dan mudah dipahami tanpa kesulitan, tanpa merasa ada sesuatu yang menghambat atau semacam jurang yang memisahkan sebuah kalimat dengan kalimat lainnya, tidak terasa loncatan – loncatan pikiran yang membingungkan. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Koherensi atau kepaduan dalam sebuah alinea atau paragraf dibangun dengan memperhatikan beberapa hal, di antaranya ialah:
(1)   Pengulangan kata kunci,
(2)   Pengulangan kata ganti,
(3)   Penggunaan transisi,
(4)   Paralelisme. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
Contoh:
Lembaga pendidikan islam telah mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan islam di Indonesia. Perkembangan pendidikan islam terjadi pada jenjang dan jenisnya sejak masa kesultanan, masa penjajahan, dan masa kemerdekaan. Perkembangan itu telah merubah sistem pendidikan dari bentuk awal, seperti pengajian di rumah – rumah, mushola, masjid, kemudian dilanjutkan dengan model pesantren. Perkembangan terakhir, pendidikan islam telah menjadi lembaga formal dalam bentuk madrasah sebagaimana yang dikenal sekarang ini.
Kepaduan pada paragraf tersebut diperoleh dengan penggunaan pengulangan kata kunci, yaitu kata yang dianggap penting dalam sebuah paragraf.
Selain menggunakan kata kunci, kepaduan paragraf dapat diperoleh dengan menggunakan transisi, baik berupa kata maupun kelompok kata. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
Perhatikan contoh berikut ini:





5
Dalam sebuah majelis, seorang ulama membahas topik yang menarik yang tidak pernah terlepas dari jiwa seorang mukmin, yakni iman. Pembahasan topik ini difokuskan pada masalah urgensi menjaga iman dalam kehidupan. Setelah itu, ulama tersebut memberi kesempatan kepada para santri untuk menanyakan perihal iman tersebut. Kemudian, salah seorang santri bertanya tentang definisi iman, “ Apakah yang dimaksud iman?” Akhirnya, ulama tersebut menjawab “ Rosulullah bersabda iman adalah mengetahui dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan beramal dengan perbuatan” Pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya hakikat iman dalam kehidupan, karena segala tindak – tanduk yang kita perbuat harus harus dilandasi dengan nilai – nilai keimanan. Dengan demikian, realisasi dari amal – amal ibadah yang kita lakukan secara ikhlas menunjukkan bukti atas manifestasi nilai – nilai keimanan yang telah melekat pada diri seseorang.
c.       Kelengkapan
Yang dimaksud dengan kelengkapan alinea ialah alinea yang berisi kalimat – kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kalimat topik.
Alinea yang terdiri dari satu topik saja dikatakan alinea yang belum lengkap.
           Contoh:
(1)   Hingga saat ini sistem pengelolaan pendidikan di madrasah belum mengalami perkembangan yang berarti. Kondisi ini tidak berbeda dengan masa – masa sebelumnya. Beberapa madrasah negeri dan swasta belum mengalami perkembangan.
(2)   Dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan diharapkan tidak muncul sentralisasi - sentralisasi baru di berbagai daerah otonom yang mengakibatkan tujuan reformasi pendidikan menjadi kabur.

Kedua paragraf tersebut termasuk paragraf yang tidak lengkap. Alinea  (1) meskipun terdiri atas lebih dari satu dari satu kalimat, tapi bukan termasuk alinea  yang lengkap karena kalimat – kalimatnya hanya merupakan pengulangan kalimat yang pertama. Demikian juga alinea (2), belum termasuk alinea yang lengkap karena hanya terdiri dari kalimat topik saja. Bandingkan dengan alinea berikut ini.
Dalam pelaksanaan desentralisasi pendidikan diharapkan tidak muncul sentralisasi – sentralisasi baru di berbagai daerah otonom yang mengakibatkan tuuan reformasi pendidikan menjadi kabur. Harapan tersebut dapat terpenuhi apabila dilakukan analisis tentang sistem pendidikan yang berlagsung di daerah masing – masing. Analisis ini di perlukan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan sistem

6

pendidikan telah diberlakukan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, pengelola
 pendidikan merencanakan program pengembangan pendidikan yang jelas dan realistis. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
D.     Jenis alinea
Berdasarkan fungsinya dalam sebuah karangan terdapat beberapa jenis alinea, yaitu:
(1)   Alinea pembuka,
(2)   Alinea penghubung,
(3)   Alinea penutup.
Tentang ketiga jenis alinea ini, dijabarkan dibawah ini:
a.       Alinea pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai alinea yang membuka atau menghantar karangan itu, atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Sebab itu sifat – sifat dari alinea semacam ini harus menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yang akan segera diuraikan. Alinea pembuka yang pendek jauh lebih baik, karena alinea – alinea yang panjang hanya akan menimbulkan kebosanan pembaca. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Alinea pembuka juga disebut sebagai paragraf topik yaitu alinea yang menentukan arah dan tatanan sebuah karangan. Dalam karya ilmiah alinea pembuka berfungsi untuk memberitahukan beberapa hal, yaitu:
(1)   Latar belakang,
(2)   Masalah,
(3)   Tujuan,
(4)   Gagasan sentral atau tesis yang merupakan pendiriana penulis.
Untuk menarik minat pembaca, penulis dapat memulai karangan dengan percakapan yang menarik, memberikan ringkasan isi karangan, memberikan contoh kongkret berkenan dengan pokok pembicaraan, mengajukan pertanyaan yang tajam, memberikan analogi, kiasan, anekdot dan lain – lain. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)

        

        
7
b.      Alinea penghubung
Yang dimaksud alnea penghubung adalah semua alinea yang terdapat antara alinea pembuka dan alinea penutup. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Secara terperinci alinea penghubung berfungsi:
(1)   Memuat pernyataan – pernyataan pikiran utama,
(2)   Menerangkan tiap pikiran utama (mendefinisikan, menjelaskan),
(3)   Memberikan bukti – bukti (contoh, alasan, fakta, rincian, dan sebagainya ),
(4)   Memberikan komentar tentang pentingnya pokok pembicaraan.
Alinea penghubung juga disebut paragraf baku karena tiap alinea penghubung berisi satu pikiran utama, beberapa pikiran pendukung, dan beberapa pikiran penjelas. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
Sifat alinea penghubung tergantung pula dari jenis karangannya. Dalam karangan – karangan yang bersifat deskriptif, narasi, atau biografi dan eksposisi, alinea – alinea itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis.bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa alinea disiapkan sebagai dasar atau landasan, untuk kemudian melangkah kepada alinea – alinea yang menekankan pendapat pengarang. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
c.       Alinea penutup
Alinea penutup adalah alinea yang dimaksudkan untuk mengakhiri  karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain alinea ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam alinea – alinea penghubung. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Dalam karya ilmiah alinea penutup berisi pernyataan bahwa karangansudah selesai dan memberitahukan kepada pembaca akan pentingnya topik dan tujuan yang dimaksudkan. Usaha – usaha untuk menutup karangan agar memberikan kesan yang kuat kepada pembaca antara lain:
(1)   Menegaskan kembali tesis dengan kata – kata lain,
(2)   Merangkum gagasan – gagasan penting yang telah disampaikan,

8
(3)   Memberikan simpulan, saran, dan atau proyeksi ke depan dan sebagainya. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
 
E.     Perkembangan alinea
Perkembangan dan pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu pertama kemampuan memperinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan – gagasan bawahan, dan kedua, kemampuan mengurutkan gagasan – gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang teratur. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Dalam pengembangan paragraf ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, yaitu:
(a)    Secara alamiah,
(b)   Klimaks an anti klimaks,
(c)    Perbandingan dan pertentangan,
(d)   Analogi,
(e)    Contoh – contoh,
(f)    Sebab akibat,
(g)   Definisi, dan
(h)   Klasifikasi. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
Berikut ini diuraikan berbagai strategi pengembangan alinea tersebut.
a.       Secara alamiah
Pengembangan alinea secara alamiah ini didasarkan pada urutan ruang dan waktu. Urutan ruang merupakan urutan yang akan membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya.dalam suatu ruang. Adapun urutan waktu adalah urutan yang menggambarkan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
Contoh:
Allah SWT memberikan perhatian yang besar terhadap perjalanan waktu agar manusia tidak terlena terhadap waktu. Hal ini ditunjukkan dengan ungkapan sumpah: demi waktu dhuha, dem waktu siang, demi waktu ashar, demi waktu malam, demi waktu fajar. Demi waktu dhuha,  Allah menggambarkan simbol manusia sempurna, yaitu Muhammad SAW dan Allah senantiasa membimbing perjalanan hidup manusia (QS. Ad-Dhuha).

9
Demi waktu siang, Allah menyatakan bahwa yang menentukan kesuksesan manusia di dunia dan di akhirat adalah hati yang bersih (QS. As-Syams). Demi waktu ashar, Allah menjelaskan bahwa manusia yang sukses dan tidak merugi adalah yang beramal saleh dan saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran (QS. Al-Ashr). Demi waktu malam, Allah menyatakan bahwa amal perbuatan yang dikarjakan dengan tulus ikhlas akan membawa kebahagiaan di akherat kelak (QS. Al-Lail ). Demi waktu fajar, Allah menerangkan adzab terhadap orang – orang kafir yang tidak dapat terelakkan (QS. Al-Fajr).
b.      Klimaks dan anti klimaks
Pengembangan alinea dengan urutan ini didasarkan bahwa posisi tertinggi atau paling menonjol. Bila posisi yang tertinggi ditempatkan pada bagian akhir disebut klimaks. Sebaliknya, bila penulis menulisrangkaian dengan posisi paling menonjol dan makin lama makin tidak menonjol disebut antiklimaks. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)        
Contoh:
Kemampuan manusia menyikapi perjalanan waktu secara bijaksana akan menentukan keberhasilan manusia di dunia maupun di akherat. Waktu merupakan hal penting dalam kehidupan manusia. Segala kegiatan tidak dapat dilepaskan dari konteks waktu. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan perhatian yag besar terhadap perjalanan waktu. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya firman Allah SWT. Yang dikaitkan dengan konteks waktu, yaitu QS. Ad-Dhuha, QS. As-Syams, QS. Al-Lail, dan QS. Al-Fajr.
c.      Perbandingan dan pertentangan
Yang dimaksud dengan perbandingan dan pertentangan adalah suatu cara dimana pengarang menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua orang, obyek atau gagasan dengan bertolak dari segi – segi tertentu. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Lebih tepatnya perbandingan dan pertentangan adalah alinea yang pemaparannya dilakukan dengan jalan membandingkan dan mempertentangkan hal – hal yang dikemukakan. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)




10
d.      Analogi
Bila pertentangan memberi sejumlah ketidaksamaan dan perbedaan antara dua hal, maka analogi merupakan perbandingan yang sistematis dari dua hal yang berbeda, tetapi dengan memperlihatkan persamaan segi atau fungsi dari kedua hal tadi, sekedar sebagai ilustrasi. Atau dapat dikatakan secara lebih sederhana, perbandingan menunjukkan kesamaan antara barang – barang dalam kelas yang sama, sebaliknya analogi menunjukkan kesamaan – kesamaan antara dua barang atau hal yang berlainan kelasnya. Bila seseorang mengatakan ,” awan dari atom itu, membentuk sebuah cendawan raksasa”, maka perbandingan antara awan ledakan atom, dan cendawan merupakan sebuah analogi, sebuah kedua hal itu sangat berbeda kelasnya, kecuali kesamaan bentuknya. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)       
e.       Contoh –contoh
Contoh – contoh ini digunakan untuk memberi bukti atau penjelasan terhadap generalisasi yang sifatnya umum agar pembaca dapat dengan mudah menerimanya. Dalam hal ini sumber pengalaman sangatlah efektif. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
Contoh:
Isra’ mi’raj merupakan peristiwa fenomenal yang menimbulkan berbagai pertanyaan. Sebagai contoh adalah dikabarkannya bahwa langit bukan hanya satu, melainkan ada 7 tingkat. Contoh lain adalah pertanyaan mengenai manusia yang menjelajahi langit sampai ke tujuh tingkat hanya dalam waktu beberapa jam saja.
f.       Sebab – akibat
Dalam paragraf sebab akibat, sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama dan akibat sebagai pikiran penjelas. Atau sebaliknya, yakni akibat sebagai pikiran utama, dan sebab sebagai rincian penjelas. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)



 


11
Contoh:
Sejauh ini ilmu astronomi belum menemukan bahwa langit alam semesta ini memiliki tujuh lapis. Jangankan langit ke tujuh, langit yang satu saja belum bisa diahami secara baik oleh ilmu pengetahuan . fakta inilah yang menjadikan munculnya kontrofersi mengenai israa’ mi’raj.
Bandingkan contoh alinea sebab-akibat tersebut dengan alinea sebab akibat berikut ini:
Orang – orang pada zaman Nabi SAW. tidak menerima cerita bahwa beliau telah melakukan perjalanan isra’ mi’raj selama satu malam. Hal ini disebabkan pada waktu itu perjalanan tersebut hanya bisa dilakukan dalam waktu berbulan – bulan. Keraguan itu bisa dipahami karena waktu itu belum berkembang teknologi transportasi modern, yang pada saat ini jarak antara Mekkah dan Palestina bisas ditempuh pesawat terbaang dalam waktu 1,5 jam.
g.      Definisi luas
Yang dimaksud dengan definisi dalam alinea adalah usaha pengarang untuk memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
Contoh:
Wujud merupakan tingkatan ketauhidan seseorang yang diperoleh melalui tahapan tawajud, wijdu, dan al-wujud. Tawajud adalah usaha sungguh – sungguh untuk menyintai dan dicintai oleh Allah SWT. Wajdu merupakan rasa cinta yang sesungguhnya kepada Allah SWT. Seseorang yang telah mencapai Wijdu disebut al-wajid adalah seorang pecinta sejati kepada Allah SWT. Setelah itu seseorang akan berada pada keadaan al- wujud, yaitu sirnanya sifat kemanusiaan yang ada hanyalah wujud al- Haq.
h.      Klasifikasi
Dalam pengembangan alinea, kadang – kadang dikelompokkan hal – hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lagi ke dalam kelompok – kelompok yang lebih kecil. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
 Contoh:
Dalam kegiatan menulis karya ilmiah, seseorang dituntut memiliki beberapa kemampuan, antara lain kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan kemampuan mengembangkan tulisan. Kemampuan kebahasaan meliputi kemampuan menerapkan ejaan, kosakata, dan kalimat. Adapun yang dimaksud dengan kemampuan pengembangan adalah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasaan ke dalam urutan yang sistematik.


12
BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
1.       Alinea tidak lain dari satu kesatuan pikiran, satu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat.ia merupakan himpunan – himpunan dari kalimat yang bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk suatu gagasan. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
2.      Alinea yang terdiri dari satu kalimat.dalam hal ini memang dimungkinkan dan wujud alinea seperti itu dianggap sebagai pengecualian karena di samping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi. (Lamuddin Finoza, komposisi bahasa Indonesia, 2002)
3.      Alinea adalah susunan dari beberapa kalimat dalam suatu bacaan dan di dalamnya terdapat ide pokok sebagai pengendalinya. Dan jika terdiri hanya satu kalimat maka alinea tersebut kurang ideal. Dan tidak bisa digunakan dalam karya ilmiah.
4.      Ciri kalimat topik:
a.       mengandung permasalahan yang potensial untuk dirinci dan diuraikan lebih lanjut, 
b.      merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri – sendiri,
c.       mempunyai arti yang cukup jelas tanpa harus dihubungkan dengan kalimat  lain,
d.      Dapat dibentuk tanpa bantuan kata sambung atau penghubung / transisi. (Lamuddin Finoza, komposisi bahasa Indonesia, 2002)
5.      Ciri kalimat penjelas:
a.       Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (dari segi arti),
b.      Arti kalimat ini kadang – kadang baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain atau satu alinea,
c.       Pembentukan sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung / transisi,
d.      Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data tambahan lainyang bersifat mendukung kalimat topik. (Lamuddin Finoza, komposisi bahasa Indonesia, 2002)

13
6.      Alinea yang baik dan efektif harus memenuhi ketiga syarat berikut:
a.       Kesatuan:  yang dimaksud dengan kesatuan dalam alinea adalah semua kalimat yang membina kalimat itu secara bersama – sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu.
b.      Koherensi: yang dimaksud dengan koherensi adalah kekompakan hubungan antara sebuah kalimat dengan kalimat yang lain yang membentuk alinea itu. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
c.       Kelengkapan. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)
7.      Berdasarkan fungsinya dalam sebuah karangan terdapat beberapa jenis alinea, yaitu:
a.       Alinea pembuka,
b.      Alinea penghubung,
c.       Alinea penutup.
8.      Perkembangan dan pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama yaitu pertama kemampuan memperinci secara maksimal gagasan utama alinea ke dalam gagasan – gagasan bawahan, dan kedua, kemampuan mengurutkan gagasan – gagasan bawahan ke dalam suatu urutan yang teratur. (Gorys Keraf, 1984,  komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa)
9.      Dalam pengembangan paragraf ada beberapa teknik yang dapat dilakukan, yaitu:
a.       Secara alamiah,
b.      Klimaks an anti klimaks,
c.       Perbandingan dan pertentangan,
d.      Analogi,
e.       Contoh – contoh,
f.       Sebab akibat,
g.      Definisi, dan
h.      Klasifikasi. (Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel, Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam, 2006)





14
DAFTAR PUSTAKA


Finoza, Lamuddin. 2002.  Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta. Diksi Insan Mulia.
Keraf, Gorys. 1984.  Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Flores. Penerbit Nusa Indah.
Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel. 2006. Bahasa Indonesia Ilmiah Bidang Agama Islam. Surabaya. Tim penyusun buku ajar bahasa Indonesia IAIN Sunan Ampel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar