Selamat datang di duniaku

Selasa, 27 November 2012

asbabun nuzul


BAB I
 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Asbabun Nuzul, Terkadang banyak ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu. dalam hal ini tidak ada permasalahan yang cukup penting, karena itu banyak ayat yang turun didalam berbagai surah berkenaan dengan satu peristiwa. Asbabun nuzul adakalanya berupa kisah tentang peristiwa yang terjadi, atau berupa pertanyaan yang disampaikan kepada rasulullah SAW untuk mengetahui hukm suatu masalah, sehingga Qur'an pun turun sesudah terjadi peristiwa atau pertanyaan tersebut. Asbabun nuzul  mempunyai pengaruh dalam memahami makna dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.
Al-Qur'an diturunkan untuk memahami petunjuk kepada manusia kearah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimana kepada allah SWT dan risalah-Nya, sebagian besar qur'an pada mulanya diturunkan untuk tujuan menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi diantara mereka khusus yang memerlukan penjelasan hukum allah.
                                                                                      
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka yang menjadi permasalahan pokok pada penelitian ini adalah:
1.      Apakah pengertian Asbabun Nuzul?
2.      Bagaimana cara nabi menerima wahyu?
3.      Ayat-ayat Al-qur’an turun sesuai tertib kejadiannya. Tetapi di dalam Al-qur’an (mushaf)tertib susunan itu berbeda. Dikatakan tertib susunan Allah-lah yang mengaturnya.Apakah itu benar?
4.      Bagaimana Rasulullah saw menerima wahyu?
5.      Bagaimana suatu ayat atau surah di turunkan?






1.3 TUJUAN DAN MANFAAT
1.3.1     Tujuan Penelitian
                        Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami tentang sebab-sebab ditirunkannya ayat Al-Qur’an.
1.3.2     Manfaat Penenlitian
            Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1.      agar kita lebih mencintai firman-firman Allah swt.
2.      Mengetahui Asbabun Nuzul ayat merupakan metode yang utama dalam memahami pesan yang terkandung dalam Alquran.
3.      Al-Wahidi menyatakan sebagaimana dikutip oleh As-Suyuthi bahwa tidak mungkin seseorang dapat menafsirkan suatu ayat tanpa mengetahui sejarah turunnya dan latar belakang masalahnya. (Anwar, 2002: 35)











BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN ASBABUN NUZUL
Asbābun Nuzūl (Arab: اسبابالنزول, Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat)) adalah ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur'an diturunkan.
Menurut Abu Anwar (2002: 29) ada tiga definisi yang dikemukakan oleh ahli tafsir tentang Asbabun Nuzul:
1.        Suatu peristiwa yang terjadi menjelang turunnya ayat.
2.        Peristiwa-peristiwa pada masa ayat Al-Qur’an itu diturunkan (yaitu dalam waktu 23 tahun),baik peristiwa itu terjadi sebelum atau sesudah ayat itu diturunkan.
3.        Peristiwa yang dicakup oleh suatu ayat, baik pada waktu 23 tahun itu maupun yang terjadi sebelum atau sesudahnya. Ini sesuai dengan definisi yang dikemukakan oleh Subhi Sholeh yang berbunyi:
Sesuatu yang dengan sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab tersebut.
Menurut Mashuri Sirojuddin Iqbal dan A. Fudlali (1989: 135) definisi Asbabun Nuzul adalah semua yang disebabkan olehnya diturunkan sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebabnya, atau memberi jawaban terhadap sebabnya, atau menerangkan hukumnya, pada saat terjadinya peristiwa itu. Turunnya ayat Alquran itu ada yang didahului dengan sebab dan ada pulayang tidak didahului dengan sebab.
Dari definisi tersebut dapat kita ketahui bahwa sebab turunnya suatu ayat bisa berbentuk peristiwa dan bisa berbentuk pertanyaan.Satu ayat atau beberapa ayat yang turun untuk menjelaskan peristiwa tertentu atau memberikan jawaban terhadap pernyataan tertentu.
Sebab turun ayat dalam bentuk peristiwa ini ada 3 macam, yaitu:
1.      Disebabkan peristiwa pertengkaran.
Contoh peristiwa ini adalah perselisihan yang berkecamuk antara suku Aus dengan suku Khazraj. Perselisihan tersebut muncul dari intrik-intrik yang dihembuskan oleh kelompok Yahudi sehingga mereka berteriak: senjata! senjata! (perang! perang!). Peristiwa tersebut menyebabkan turunnya ayat 100 Surah Ali Imran:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Ayat tersebut dilanjutkan sampai beberapa ayat sesudahnya. Hal ini merupakan cara terbaik untuk menjauhkan orang dari perselisihan dan merangsang orang untuk berkasih sayang satu dengan lainnya, memiliki rasa persaudaraan yang tinggi dan kekompakan atau kesepakatan yang kuat.

2.      Disebabkan peristiwa kesalahan yang serius.
Contoh, seorang yang menjadi imam dalam shalat dan orang tersebut dalam keadaan mabuk.Sehingga orang tersebut salah membaca Surah Al Kafirun. Pristiwa tersebut menyebabkan turunyya Surah An Nisaa’ ayat 42 yang melarang orang mengerjakan shalat ketika mabuk.
Ayat tersebut berbunyi:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghampiri (mengerjakan) shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.

3.      Disebabkan adanya cita-cita dan keinginan.
Contoh, sejarah mencatat ada beberapa ucapan yang ingin diucapkan oleh Umar al-Khattab, tapi dia tidak berani, kemudian turun ayat misalnya yang diinginkan oleh Umar, ayat 14 dalam Surah Al Mukminun. Contoh lain adalah menjadikan maqdam Ibrahim sebagai tempat shalat.
Ada ayat Al-Qur’an yang Asbabun Nuzulnya lebih dari satu, dan ada pula satu sebab, tapi ada beberapa ayat yang turun (anwar, 2002: 32).Contoh yang pertama adalah surah An-Nur ayat 6-7. Asbabun al-Nuzul ayat tersebut ada dua, yaitu:
(6)Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. (7) Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta[1030].
[1030]  maksud ayat 6 dan 7: orang yang menuduh Istrinya berbuat zina dengan tidak mengajukan empat orang saksi, haruslah bersumpah dengan nama Allah empat kali, bahwa dia adalah benar dalam tuduhannya itu. Kemudian dia bersumpah sekali lagi bahwa dia akan kena laknat Allah jika dia berdusta. Masalah Ini dalam fiqih dikenal dengan Li'an.
Adapun sebab turunnya ayat tersebut adalah:
1.        Pertanyaan Ashim dan Uaimir kepada Rasul sehubungan dengan mereka menemukan istrinya masing-masing melakukan perzinaan.Peristiwa tersebut diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
2.        Tuduhan Hilal bin Umayyah terhadap istrinya yang dituduh berzina dengan syarik bin Sahna’. Tuduhan tersebut terjadi di hadapan Nabi saw.

Contoh yang kedua adalah:
1.        Surah An Nisaa’ ayat 32.
2.        Surah Al-Ahzab ayat 35
3.        Surah Ali Imran ayat 195

Sebab turunnya ayat tersebut adalah riwayat Hakim sendiri tentang perkataan Ummu Salamah kepada Rasul:
“Ya Rasulullah!Saya tidak mendengar Allah menyebut khusus tentang wanita di dalam Alquran mengenai peristiwa hijrah.”
Dalam buku ulumul qur’an (anwar, 2002: 33-35) apabila riwayat yang menjelaskan tentang turunnya ayat lebih dari satu, maka timbul empat kemungkinan, (menurut Al-Zarqani).
1.      Satu diantaranya sahih.
Dalam hal ini yang dijadikan pedoman adalah yang sahih.Misalnya perbedaan riwayat antara Bukhari, Muslim, dengan riwayat Thabrani tentang turunnya Surah Ad Dhuha. Atau contoh dari peristiwa yang melatarbelakangi turunnya Surah An  Nuur ayat 6-7. Yaitu perbedaan riwayat antara Bukhari, Muslim, dengan yang lain. Tentu yang dipilih dalam hal ini adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim.
2.      Keduanya sahih tetapi yang satu punya dalil penguat sementata yang satu lagi tidak mempunyai penguat.
Dalam hal ini yang dijadikan pedoman adalah yang pertama .misalnya riwayat Bukhari dan Ibnu Mas’ud dan Tirmizi dari Ibnu Abbas tentang sebab turunnya Surah Al-israa ayat 85:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

Maka yang dijadikan pedoman adalah yang pertama, karena Abdullah bin Mas’ud menyaksikan langsung peristiwa itu.
3.      Keduanya sahih dan sama-sama tidak dikuatkan oleh dalil lain, tetapi yang keduanya mungkin dikompromasikan dengan mengatakan bahwa ayat itu mempunyai Asbabun Nuzul.
Misalnya Asbabun Nuzul dari ayat 6 Surah An Nuur:
Bukhari dari Ikrimah dan Ibnu ‘Abbas, dan Bukhari dai Ibnu Sahal tentang kasus Hilal menuduh istrinya serong atau berlaku curang dengan Syuraik, dan pertanyaan Uaimir kepada Ashim Ibnu ‘Adi tentang istrinya yang serong, dan ‘Ashim bertanya kepada Rasul.
4.        Keduanya sahih tetapi tidak ditemukan dalil yang menguatkan, dan juga tidak dapat dikompromikan.
Jika didapati hal seperti itu, maka jalan keluarnya harus dianggap bahwa ayat itu turun dua kali dengan latar belakang yang berbeda. Misalnya Asbabun Nuzul dari ayat:
(126)  Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu[846].akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

[846]  maksudnya pembalasan yang dijatuhkan atas mereka janganlah melebihi dari siksaan yang ditimpakan atas kita.

Suatu riwayat mengatakan bahwa ayat tersebut turun waktu perang uhud, sedang riwayat yang kedua mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut pada waktu Fathu Mekah (Baihaqi dan Tirmizi).Maka penyelesaiannya adalah ayat itu turun dua kali.
Terlepas dari pendapat itu semua, memang ada ayat-ayat yang tidak dapat dipahami tanpa  mengetahui Asbabun Nuzul. Misalnya Surah Al Baqarah ayat 62 dan Surah Al Maidah ayat 93 yang berbunyi:
62.  Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari Kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

[56]  Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari'at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.
[57]  orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
[58]  ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.

Adapun Asbabun Nuzul dari ayat di atas adalah:
1.        Riwayat yang disampaikan Ibn Abi Khatim dan Al-Adni dari Ibn Abi Najih yang bersumber dari Mujahid menyatakan bahwa Salman bertanya kepada Nabi saw. Tentang penganut agama yang pernah ia anut bersama mereka. Ia terangkan cara shalat dan ibadahnya. Maka turunlah ayat 62 Surah Al Baqarah ini sebagai penegasan bahwa orang yang beriman kepada Allah, hari akhir dan berbuat baik akan mendapat pahala dari Allah swt.
2.        Riwayat yang disampaikan oleh Al-Wahidi dari Abdullah bin Katsir yang bersumber dari Mujahid menyatakan bahwa ketika Salman menceritakan kepada Rasulullah saw. Kisah teman-temannya, maka Nabi menjawab “mereka di neraka”.Salman berkata “seolah-olah dunia ini gelap gulita bagiku”.Akan tetapi setelah turun ayat ini (QS. 2: 62) “dunia ini seolah-olah terang benderang bagiku”.
Ada juga ayat-ayat yang turun tanpa didahului oleh suatu sebab terdapat banyak di dalam Al-Quran melebihi ayat-ayat yang ada asbabun nuzulnya.Pada umumnya ayat-ayat yang turun tanpa sebab itu ialah kisah-kisah para Nabi/Rasul dan umat-umat jaman dahulu, ayat-ayat yang menerangkan alam gaib, ayat-ayat yang menggambarkan hari qiyamat, surga dan neraka.Motif ayat-ayat yang turun tanpa suatu sebab adalah untuk menghibur Nabi saja terutama dalam menghadapi tantangan kaum Quraisy (Iqbal dan fudlali, 1989: 137).
2.2HUBUNGAN ASBABUN NUZUL DENGAN PENERAPAN HUKUM YANG TERKANDUNG DALAM SUATU AYAT
Menurut Abu Anwar dalam bukunya Ulumul Qur’an (2002: 41-46) ada dua pendapat yang mendasari tentang hubungan Asbabun Nuzul dengan hukum yang terkandung dalam suatu ayat Alquran, yaitu:
1.        Kandungan ayat dengan Asbabun Nuzul tertentu tidak hanya berlaku pada kasus yang menjadi Asbabun Nuzul.Pendapat ini didasari oleh suatu kaidah misalnya (QS. Al Baqarah (2) ayat 222) yang berbunyi:
222.  Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

[137]  maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138]  ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.
Adapun sebab turun ayat tersebut adalah khusus, yaitu hadis yang bersumber dari Anas tentang istri seorang Yahudi yang sedang haid.Apabila istri orang Yahudi dalam keadaan haid maka dikeluarkan dari rumah itu.Suami atau keluarga tidak mau makan dengannya dan tidak mau bergabung dalam suatu rumah.
Hal tersebut pernah ditanyakan orang kepada Rasul, ketika itu Allah menurunkan ayat QS.2: 222 di atas.Lalu Rasul menjawab agar istri diperlakukan dengan baik dan tinggal dalam satu rumah, yang dilarang hanyalah melakukan hubungan seksual.
Dapat dilihat bahwa ayat di atas berlafaz umum, tapi sebabnya khusus.Maka banyak orang sepakat penetapan hukumnya berdasarkan atau menggunakan umumnya lafaz, tidak dengan khususnya sebab, sehingga berlaku untuk semua orang.
Contoh lain adalah Surah An Nuur ayat 6-9 mengenai tuduhan terhadap istri yang melakukan zina. Ayat tersebut berbunyi:
6.  Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar.
7.  Dan (sumpah) yang kelima: bahwa la'nat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta[1030].
8.  Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah Sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta.
9.  Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.

[1030]maksud ayat 6 dan 7: orang yang menuduh Istrinya berbuat zina dengan tidak mengajukan empat orang saksi, haruslah bersumpah dengan nama Allah empat kali, bahwa dia adalah benar dalam tuduhannya itu. Kemudian dia bersumpah sekali lagi bahwa dia akan kena laknat Allah jika dia berdusta. Masalah Ini dalam fiqih dikenal dengan Li'an.

Turunnya surat ini sehubungan dengan Hilal bin Umayyah yang mengqazaf istrinya di hadapan Nabi. Lalu Nabi meminta bukti yang akurat.Nabi menandaskan, kalau tidak ada bukti yang akurat maka Hilal harus menerima risikonya. Sehubungan dengan kejadian tersebut maka turun surat itu.
Dapat dilihat bahwa ayat di atas (Surah An Nuur ayat 6-9) sebabnya khusus, tapi lafaznya umum. Oleh karena itu, pengambilan hukumnya berdasarkan lafaz. Meskipun ayat tersebut berdasarkan keumuman lafaz namun bukan berarti mereka mengabaikan sebab sama sekali.
2.        Kandungan ayat dengan Asbabun Nuzul tertentu atau khusus hanya berlaku pada kasus yang menjadi sebab turunnya ayat itu. Pendapat ini berdasarkan kaidah. Contohnya adalah Surah Al Lail ayat 17-21 yang berbunyi:
17.  Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18.  Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19.  Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20.  Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.
21.  Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

Tujuh orang hamba sahaya sebelum dibebaskan mereka disiksa dalam menegakkan ajaran Islam. Tujuh orang hamba sahaya tersebut adalah Bilal bi Rabahwa, Amir bin Fuhairah, al-Nahdiah beserta putrinya , Ibu Isa dan Bani al-Mauli (seorang budak wanita). Riwayat yang ada yang bersumber dari ‘Urwah menyatakan, bahwa Abu Bakar Shiddiq telah memerdekakan mereka, dalam hal ini turunlah ayat tersebut di atas (dan akan dijauhkan dari neraka orang yang paling bertakwa sampai pada akhir surat). Dapat dipahami bahwa menurut Asbabun Nuzul ayat tersebut ditujukan untuk Abu Bakar.Pendapat ini dipegangi oleh jumhur ulama.

Ayat-ayat hukum pada umumnya turun karena sesuatu sebab, seperti:
221.  Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Turunnya ayat tersebut adalah karena peristiwa seperti berikut:
     “Nabi mengutus Murtsid Al Ghanawi ke Mekkah untuk tugas mengeluarkan orang-orang Islam yang lemah. Setelah ia sampai di sana, ia dirayu oleh seorang wanita musyrik yang cantik dan kaya, tetapi ia menolak karena takut kepada Allah. Kemudian wanita tersebut datang lagi dan minta agar dia dikawini.Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah ia kembali ke Madinah ia menerangkan kasus yang dihadapi dan ia minta izin kepada Nabi untuk kawin dengan wanita itu. Maka turunlah Surah Al-Baqarah 221”.


2.3           TURUNNYA WAHYU
Ketika wahyu pertama turun, Rasulullah saw merasa sangat lelah, sehingga setiba dirumahnya beliau berkata kepada istrinya Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku”. Beliau gemetar dan merasa begitu takut, seluruh tubuhnya terasa lelah karena Jibril memeluknya dengan ketat, sehingga keringat bertetesan dari kening beliau.
Menurut As Sya’rawi (1992: 100-102) jika dua unsur bertemu yaitu unsur malaikat dan unsur manusia, maka akan terjadi beberapa alternatif, yaitu:
Pertama, unsur malaikat pindah kepada unsur manusia dimana Jibril berupa seorang laki-laki tampan yang mengajarkan kata-kata kepada nabi Muhammad sampai beliau hapal benar.Cara ini tidak terlalu melelahkan.
Kedua, Rasulullah (unsur manusia) berubah dan pindah kepada unsur malaikat (agar bisa berpadu), dan cara inilah yang paling berat dirasa dan melelahkan beliau. Wahyu datang kepada beliau seperti gemerincingnya lonceng.Cara ini lah yang dirasakan nabi sangat berat. Kadang-kadang di kening beliau berpancaran keringat, meskipun waktu itu cuaca begitu dingin. Diriwayatkan oleh penulis wahyu Zaid bin Tsabit:
“aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Ketika wahyu itu turun aku melihat Rasulullah seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata.Setelah wahyu selesai turun, beliau kembali seperti biasa”.
Ketiga, Malaikat memasukkan wahyu kedalam hati beliau.Dalam hal ini nabi SAW tidak melihat sesuatu, tetapi hanya merasakan wahyu sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal itu beliau bersabda:  “Ruhul Kudus mewahyukan ke dalam kalbuku”.
Keempat, Malaikat Jibril menampakkan diri kepada nabi tidak berupa seorang laki-laki tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Firman Allah swt:
(13)Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (14)  (yaitu) di Sidratil Muntaha [1430].
[1430]  Sidratul Muntaha adalah tempat yang paling tinggi, di atas langit ke-7, yang Telah dikunjungi nabi ketika Mi'raj.

Salah besar bila orang mengutamakan tertib susunan sebagaimana yang diturunkan Allah lewat malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. Surat-surat Al-qur’an turun dengan tertib seiring dengan kejadian dan peristiwanya.Tetapi susunan dan letaknya dalam Al-qur’an berbeda sesuai dengan ajaran Allah.Ini untuk memudahkan pemahamannya oleh manusia dan juga mudah dimengerti dan diingat. (As Sya’rawi, 1992: 440)
Firman Nya:
(17)  Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

2.4           WAKTU TURUNNYA AL-QUR’AN
Qur’an di turunkan dalam bulan Ramadhan, pada suatu malam, yang sejak saat itu mendapat julukan Lailatu-l qadr atau malam yang agung. (Bachrun, 1989: 20) Allah swt berfirman:
185.  (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Qur’an diturunkan sepotong-sepotong, dan setelah penggalan-penggalan itu diturunkan, segera ditulis dan dihapalkan, adapun jangka waktu diturunkannya Al-Qur’an meliputi masa hidup Nabi Muhammad Sawnselama 23 tahun, yang selama itu beliau sibuk memperbaiki dunia yang dilanda kegelapan. (Bachrun, 1989: 20)
Allah  swt berfirman:
106.  Dan Al Quran itu Telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.

2.5          BEBERAPA ORANG YANG MENJADI PENYEBAB TURUNNNYA SUATU AYAT
2.5.1    Abu Bakar As Siddiq
2.5.1.1  An-Nuur ayat 22
Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.
22.  Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

2.5.2    Abu Jahal
2.5.2.1 Al -‘Alaq ayat 6-19   
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu Jahal pernah berkata: "Apakah Muhammad meletakkan mukanya ke tanah (sujud) di hadapan kamu?" Ketika itu orang membenarkannya. Selanjutnya Abu Jahal berkata: "Demi Lata dan 'Uzza, sekiranya aku melihatnya demikian, akan aku injak batang lehernya dan aku benamkan mukanya ke dalam tanah." Ayat ini (S.96:6-19) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Abi Hurairah.)
6.  Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
7.  Karena dia melihat dirinya serba cukup.
8.  Sesungguhnya Hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu).
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. sedang shalat, datanglah Abu Jahal melarang Nabi melakukannya. Ayat ini (S.69:9-16) turun berkenaan dengan peristiwa di atas sebagai ancaman kepada orang yang menghalang-halangi beribadat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
9.  Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10.  Seorang hamba ketika mengerjakan shalat [1590],
11.  Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran,
12.  Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?
13.  Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?
14.  Tidaklah dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?
15.  Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya kami tarik ubun-ubunnya [1591],
16.  (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.

[1590]  yang dimaksud dengan orang yang hendak melarang itu ialah abu Jahal, yang dilarang itu ialah Rasulullah sendiri. akan tetapi usaha Ini tidak berhasil Karena abu Jahal melihat sesuatu yang menakutkannya. setelah Rasulullah selesai shalat disampaikan orang berita itu kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah mengatakan: "Kalau jadilah abu Jahal berbuat demikian pasti dia akan dibinasakan oleh Malaikat".
[1591]  Maksudnya: memasukkannya ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika Nabi saw. sedang shalat, datanglah Abu Jahal berkata: "Bukankah aku telah melarang engkau berbuat begini (shalat)?" Ia pun dibentak oleh Nabi saw. Abu Jahal berkata: "Bukankah engkau tahu bahwa di sini tidak ada yang lebih banyak pengikutnya daripadaku?" Maka Allah menurunkan ayat ini (S.96:17-19) sebagai ancaman kepada orang-orang yang menghalang-halangi melakukan ibadat dan karena merasa banyak pengikutnya. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas.Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih.)
17.  Maka Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya),
18.  Kelak kami akan memanggil malaikat Zabaniyah [1592],
19.  Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

[1592]  Malaikat Zabaniyah ialah malaikat yang menyiksa orang-orang yang berdosa di dalam neraka.

2.5.3    Abu Amir Ar Rahib
2.5.3.1 At-Taubah ayat 107
107.  Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang Telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

Yang dimaksudkan dengan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah seorang pendeta Nasrani bernama Abu 'Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. Akan tetapi kedatangan Abu 'Amir ini tidak jadi karena ia mati di Syiria. Dan masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.

2.5.4    Abu Lahab
2.5.4.1  Al-Lahab ayat 1-5
1.  Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa.
2.  Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3.  Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4.  Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar[1608].
5.  Yang di lehernya ada tali dari sabut.

 [1608]  Pembawa kayu bakar dalam bahasa Arab adalah kiasan bagi penyebar fitnah. isteri abu Lahab disebut pembawa kayu bakar Karena dia selalu menyebar-nyebarkan fitnah untuk memburuk-burukkan nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslim. Biasanya tukang-tukang sihir dalam melakukan sihirnya membikin buhul-buhul dari tali lalu membacakan jampi-jampi dengan menghembus-hembuskan nafasnya ke buhul tersebut.
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. naik ke Bukit Shafa sambil berseru: "Mari berkumpul pada pagi hari ini!" Maka berkumpullah kaum Quraisy. Rasulullah bersabda: "Bagaimana pendapat kalian, seandainya aku beritahu bahwa musuh akan datang besok pagi atau petang, apakah kalian percaya kepadaku?" Kaum Quraisy menjawab: "Pasti kami percaya." Rasulullah bersabda: "Aku peringatkan kalian bahwa siksa Allah yang dahsyat akan datang." Berkata Abu Lahab: "Celaka engkau! Apakah hanya untuk ini, engkau kumpulkan kami?" Maka turunlah ayat ini (S.111:1-5) berkenaan dengan peristiwa yang melukiskan bahwa kecelakaan itu akan terkena kepada orang yang memfitnah dan menghalang-halangi agama Allah.
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas.)
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa istri Abu Lahab menyebarkan duri-duri di tempat yang akan dilalui Nabi saw. Ayat ini (S.111:1-4) turun berkenaan dengan peristiwa itu yang melukiskan bahwa orang yang menghalang-halangi dan menyebarkan permusuhan terhadap Islam akan mendapat siksa Allah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Isra'il dari Abi Ishaq yang bersumber dari orang Hamdan bernama Yazid bin Zaid. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari 'Ikrimah.)

2.5.5    Ibnu Ummi Maktum
2.5.5.1  ‘Abasa (ia bermuka masam)
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah S.80:1 turun berkenaan dengan Ibnu Ummi Maktum yang buta yang datang kepada Rasulullah saw. sambil berkata: "Berilah petunjuk kepadaku ya Rasulullah." Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang menghadapi para pembesar kaum musyrikin Quraisy, sehingga Rasulullah berpaling daripadanya dan tetap mengahadapi pembesar-pembesar Quraisy. Ummi Maktum berkata: "Apakah yang saya katakan ini mengganggu tuan?" Rasulullah menjawab: "Tidak." Ayat ini (S.80:1-10) turun sebagai teguran atas perbuatan Rasulullah saw. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang bersumber dari 'Aisyah.Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ya'la yang bersumber dari Anas.)
1.  Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
2.  Karena Telah datang seorang buta kepadanya[1554].
3.  Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
4.  Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
5.  Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup [1555],
6.  Maka kamu melayaninya.
7.  Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
8.  Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
9.  Sedang ia takut kepada (Allah),
10.  Maka kamu mengabaikannya.
[1554]  orang buta itu bernama Abdullah bin ummi Maktum. dia datang kepada Rasulullah s.a.w. meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah s.a.w. bermuka masam dan berpaling daripadanya, Karena beliau sedang menghadapi pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat Ini sebagi teguran kepada Rasulullah s.a.w.
[1555]  yaitu pembesar-pembesar Quraisy yang sedang dihadapi Rasulullah s.a.w. yang diharapkannya dapat masuk Islam.
            Dari paparan asbabun nuzul di atas dapat diambil dua kesimpulan yang masih simpang siur. Pertama, ayat tersebut diturunkan atas teguran terhadap Nabi saw. Kedua, apakah nabi saw yang akhlaknya menjadi panutan umatnya memberikan muka masam terhadap hambanya yang datang dengan penuh keikhlasan ingin belajar mengenai Islam, sedangkan Nabi saw lebih mementingkan kaum yang sedang dihadapinya padahal ia selalu dihina. Dalam suatu hadis nabi saw bersabda: “aku dididik oleh Allah dengan sebaik-baiknya didikan.”Asbabun nuzul tentang surah ini masih banyak di perdebatkan oleh para ulama untuk mengetahui surah ini ditujukan kepada siapa yang bermuka masam tersebut.
Masih banyak lagi kisah-kisah asbabun nuzul suatu ayat.Asbabun nuzul yang ada di dalam makalah ini adalah sebagian dari beberapa contoh asbabun nuzul ayat dan surah.













BAB III
PENUTUP
3.1         KESIMPULAN
Dari paparan di atas dapat disimpulkan:
3.1.1        Asbabun Nuzul adalah sebab-sebab turunnya suatu ayat atau surah dalam Al-Qur’an.Namun ada juga ayat atau surah yang tidak ada asbabun nuzulnya seperti kisah-kisah para Nabi/Rasul dan umat-umat jaman dahulu, ayat-ayat yang menerangkan alam gaib, ayat-ayat yang menggambarkan hari qiyamat, surga dan neraka.Motif ayat-ayat yang turun tanpa suatu sebab adalah untuk menghibur Nabi saja terutama dalam menghadapi tantangan kaum Quraisy.
3.1.2        Sebab turunnya suatu ayat bisa berbentuk peristiwa dan bisa berbentuk pertanyaan. Sebab turunnya ayat atau surah dalam bentuk peristiwa ada 3 macam, yaitu : Disebabkan peristiwa pertengkaran, Disebabkan peristiwa kesalahan yang serius, Disebabkan adanya cita-cita dan keinginan.
3.1.3        Apabila riwayat yang menjelaskan tentang turunnya ayat lebih dari satu, maka timbul empat kemungkinan, yaitu: pertama, Satu diantaranya sahih. Kedua, Keduanya sahih tetapi yang satu punya dalil penguat sementata yang satu lagi tidak mempunyai penguat.Ketiga, Keduanya sahih dan sama-sama tidak dikuatkan oleh dalil lain, tetapi yang keduanya mungkin dikompromasikan dengan mengatakan bahwa ayat itu mempunyai Asbabun Nuzul.Keempat, Keduanya sahih tetapi tidak ditemukan dalil yang menguatkan, dan juga tidak dapat dikompromikan.
3.1.4        Qur’an di turunkan pada malam lailatul qadr pada bulan ramadhan.




Referensi
Al-Habsyi, Husein. 1992. NABI SAW BERMUKA MANIS TIDAK BERMUKA MASAM. Jakarta: Al-Kautsar.
Anwar, Abu. 2002. Ulumul Qur’an. Pekanbaru: Amzah.
Asy Sya’rawi, M. Mutawalli. 1992. ANDA bertanya ISLAM menjawab.Jakarta: Gema Insani Press.
Bachrun, H.M dan R.Kaelan. 1989. ISLAMOLOGI (Dinul Islam). Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah.
Iqbal, Mashuri Sirojuddin dan A. Fudlali. 1989. Pengantar ILMU TAFSIR. Bandung: ANGKASA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar